
Kaos merupakan pakaian paling populer di dunia ini dikarenakan pakaian ini dikenakan semua golongan usia, baik pria maupun wanita dan umumnya orang memakai pakaian ini minimal seminggu sekali.
Saat ini kaos umumnya menggunakan bahan katun (cotton). Bahan ini paling populer digunakan karena kain katun memiliki kemampuan menyerap keringat yang baik, halus dan nyaman di kulit, warnanya tidak mudah luntur dan tidak mudah kusut.
Sesuai judulnya, pada artikel kali ini kami akan membahas tentang sejarah kaos oblong. Ini menarik diketahui karena kaos oblong merupakan pakaian yang bisa dibilang paling sering kita kenakan dibanding jenis pakaian lain. Berikut rangkuman infonya.
Sejarah Kaos
Kaos oblong pada mulanya digunakan sebagai pakaian tentara Inggris dan Amerika pada abad ke 19 sampai awal abad ke 20. Asal muasal nama inggrisnya, T-shirt, tidak diketahui secara pasti. Teori yang paling umum diterima adalah nama T-shirt berasal dari bentuknya yang menyerupai huruf “T”, atau di karenakan pasukan militer sering menggunakan pakaian jenis ini sebagai “training shirt“
Masyarakat umum pada saat itu belum mengenal penggunakan kaos atau T-Shirt dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, para tentara yang menggunakan kaos oblong ini pun hanya menggunakannya ketika udara panas atau aktivitas-aktivitas yang tidak menggunakan seragam. Ketika itu warna dan model kaos oblong tidak bervariasi seperti sekarang, warnaya umumnya putih dan abu dan kerahnya O-neck.
Awal Kepopuleran di Masyarakat
Kaos oblong mulai populer di masyarakat luas saat Marlon Brando memakainya pada tahun 1947, saat ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya Tenesse William di Broadway, AS. T-shirt berwarna abu-abu yang dikenakannya begitu pas dan lekat di tubuh Brando, serta sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. Film lain yang mempengaruhi adalah Rebel Without A Cause (1995) yang dibintangi James Dean.
Pada waktu umumnya penonton kagum dengan itu semua, meski begitu, ada juga penonton yang protes, yang beranggapan bahwa pemakaian kaos oblong tersebut termasuk kurang ajar dan pemberontakan.
Meningkatnya Kepopuleran
Perlahan tapi pasti, kaos oblong mulai menjadi bagian dari pakaian sesehari yang tidak hanya dipakai untuk pakaian dalam, tetapi juga menjadi pakaian luaran. Pada pertengahan tahun 50an, T-shirt sudah mulai menjadi bagian bagian dari dunia fashion. Namun baru pada tahun 60an ketika kaum hippies mulai merajai dunia, T-shirt benar-benar menjadi state of fashion itu sendiri.
Sebagai sebuah simbol anti kemapanan, para hippies ini menggunakan T-shirt/kaos sebagai salah satu komponen simbolnya. Semenjak saat itulah revolusi T-shirt terjadi secara total. Para penggiat bisnis menyadari bahwa T-shirt dapat menjadi media promosi yang amat efektif serta efesien. Segala persyaratan sebagai medium promosi yang baik ada di T-shirt. Murah, mobile, fungsional, dapat dijadikan suvenir dan seterusnya.
Di saat yang bersamaan, kelompok-kelompok tertentu macam hippies, komunitas punk, atau organisasi politik, juga menyadari bahwa T-shirt dapat menjadi medium propaganda yang sempurna selain medium yang telah ada. Statement apapun dapat tercetak diatasnya, tahan lama, dan penyebarannya mampu melewati batas-batas yang tidak dapat dicapai oleh medium lain, seperti poster misalnya.
Secara fungsional benda tersebut masih berlaku sebagai sebuah sandang. Namun dibalik itu semua, T-shirt memiliki value yang melebihi dari fungsi dasarnya. Desain T-Shirt yang terus berkembang sampai sekarang selaras dengan perkembangan manusia dan teknologi komputer dan sablon yang masih terus berkembang.